Senin, 06 Mei 2019

sejarah negara belanda



Hasil gambar untuk gambar negara belanda



Hasil gambar untuk bendera belanda








Sejarah Belanda adalah sejarah bangsa bahari yang tumbuh dan berkembang di daerah tanah rendah delta sungai yang bermuara ke Laut Utaradi kawasan barat laut Eropa. Catatan sejarah Belanda bermula dengan kurun waktu empat abad manakala daerah ini menjadi tapal batas wilayah Kekaisaran Romawi yang dijaga bala tentara. Daerah tapal batas ini kian lama kian terdesak oleh serbuan suku-suku bangsa Jermani yang berpindah ke arah barat. Seiring runtuhnya Kekaisaran Romawi dan bermulanya Abad Pertengahan, tiga suku bangsa Jermani terbesar tampil menguasai daerah ini, yakni suku bangsa Frisia di sebelah utara serta kawasan pesisir, suku bangsa Saksen Hilir di sebelah timur laut, dan suku bangsa Franka di sebelah selatan.
Pada Abad Pertengahan, kaum keturunan wangsa Karoling berhasil menguasai daerah ini, dan memperluas wilayah kekuasaan mereka hingga mencakup hampir seluruh kawasan barat Eropa. Negeri Belanda kala itu merupakan bagian dari Kadipaten Lotharingia Hilir di dalam wilayah Kekaisaran Romawi Suci yang didirikan dan diperintah oleh suku bangsa Franka. Selama beberapa abad, wilayah Belanda terbagi-bagi menjadi sejumlah swapraja feodal, antara lain BrabantHollandZeelandFriesland, dan Gelre, dengan tapal batas yang terus-menerus berubah. Belum ada wilayah kesatuan yang setara dengan wilayah negara Belanda sekarang ini.
Pada 1433, Adipati Burgundia berhasil menguasai seluruh daerah tanah rendah di Kadipaten Lotharingia Hilir, dan mendirikan swapraja Belanda Burgundi yang meliputi wilayah Belgia, Luksemburg, dan sebagian wilayah Prancis.
Raja-raja Spanyol yang beragama Katolik menindak keras penyebaran mazhab Protestan, yang menimbulkan perseteruan antarkelompok masyarakat di dua kawasan yang kini menjadi wilayah negara Belgia dan daerah Holland di negara Belanda. Pemberontakan rakyat Belanda yang berkobar sesudahnya mengakibatkan swapraja Belanda Burgundi pecah menjadi Belanda Spanyol dan Perserikatan Provinsi-Provinsi. Belanda Spanyol adalah wilayah berpenduduk Kristen Katolik penutur bahasa Prancis dan bahasa Belanda (kurang lebih meliputi wilayah negara Belgia dan negara Luksemburg sekarang ini), sementara Perserikatan Provinsi-Provinsi adalah wilayah utara berpenduduk penutur bahasa Belanda yang mayoritas beragama Kristen Protestan dan selebihnya beragama Kristen Katolik. Wilayah Perserikatan Provinsi-Provinsi inilah yang di kemudian hari menjadi wilayah negara Belanda modern.
Pada Zaman Keemasan Belanda yang mencapai puncaknya sekitar tahun 1667, terjadi perkembangan di bidang perniagaan, industri, seni rupa, dan ilmu pengetahuan. Negara Belanda berkembang menjadi sebuah imperium yang makmur dengan wilayah-wilayah jajahan yang tersebar di seluruh dunia, dan Kongsi Dagang Hindia Timur atau Kompeni Belanda muncul sebagai salah satu perusahaan dagang nasional tertua dan terpenting yang berasaskan kewirausahaan dan perniagaan.
Pada abad ke-18, kekuasaan dan kemakmuran Belanda mengalami kemerosotan. Negara ini melemah akibat berulang kali berperang melawan negara-negara tetangganya yang lebih kuat, yakni Inggris dan Prancis. Kerajaan Inggris merebut Nieuw Amsterdam, koloni Belanda di Amerika Utara, dan mengganti namanya menjadi New York. Kerusuhan dan konflik timbul di antara kaum pendukung Pangeran Oranje dan kaum Patriot. Revolusi Prancis meluber ke Belanda selepas 1789, dan Republik Batavia pun didirikan pada 1795. Napoleon menjadikannya sebuah negara satelit dengan nama Kerajaan Holland pada 1806, namun di kemudian hari hanya menjadi salah satu provinsi dari Imperium Prancis.
Setelah Napoleon tumbang pada 1813–1815, Perserikatan Kerajaan Belanda didirikan dengan wilayah yang diperluas, dan diperintah oleh wangsa Oranje sebagai kepala monarki yang juga memerintah atas Belgia dan Luksemburg. Sang Raja memberlakukan pembaharuan-pembaharuan Protestan secara paksa di Belgia, sehingga rakyat negeri itu bangkit memberontak pada 1830 dan akhirnya merdeka pada 1839. Selepas kurun waktu pemerintahan konservatif, konstitusi tahun 1848 mengubah Belanda menjadi negara demokrasi parlementer yang dikepalai oleh seorang kepala monarki konstitusional. Negara Luksemburg modern secara resmi merdeka dari Belanda pada 1839, namun masih mengakui Raja Belanda sebagai kepala negaranya sampai dengan 1890. Semenjak 1890, jabatan kepala negara Luksemburg beralih ke cabang lain dari wangsa Nassau.
Belanda bersikap netral pada Perang Dunia I, namun diserbu dan diduduki oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Nazi, termasuk sekian banyak antek-anteknya, mengumpulkan dan membunuh hampir semua orang Yahudi (yang paling terkenal di antaranya adalah Anne Frank). Manakala perlawanan rakyat Belanda semakin bertambah, Nazi menghambat pasokan pangan ke berbagai daerah, sehingga menimbulkan bencana kelaparan yang dahsyat sepanjang kurun waktu 1944–1945. Pada 1942, Hindia Belanda ditaklukkan oleh Jepang, namun orang-orang Belanda sudah lebih dahulu menghancurkan sumur-sumur minyak yang sangat dibutuhkan Jepang. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945. Suriname mendapatkan kemerdekaannya pada 1975. Pada tahun-tahun pascaperang, terjadi pemulihan ekonomi (terbantu oleh Rancangan Marshall dari Amerika Serikat), disusul dengan penerapan konsep negara berkesejahteraan pada kurun waktu yang damai dan makmur. Belanda membentuk persekutuan baru di bidang ekonomi dengan Belgia dan Luksemburg yang dinamakan Uni Beneluks. Ketiga negara ini menjadi anggota pendiri Uni Eropa dan NATO. Pada beberapa dasawarsa terakhir ini, perekonomian Belanda telah terjalin erat dengan perekonomian negara Jerman, dan kini sangat makmur.

Suku bangsa Kelt di kawasan selatan Belanda[sunting | sunting sumber]

Persebaran diakronik masyarakat Kelt, menunjukkan perluasan wilayah di kawasan selatan Belanda: 
  Pusat kebudayaan Hallstatt, pada abad ke-6 SM
  Perluasan wilayah maksimal suku bangsa Kelt, pada 275 SM
  Daerah orang Lusitania di Iberia, tempat keberadaan masyarakat Kelt tidak dapat dipastikan
  daerah-daerah tempat bahasa-bahasa Kelt masih dituturkan secara luas sampai sekarang
Kebudayaan Kelt berasal dari kebudayaan Hallstatt (ca. 800–450 SM) di kawasan tengah Eropa, yakni kebudayaan yang meninggalkan jejak berupa benda-benda bekal kubur yang ditemukan di Hallstatt, Austria.[19] Di kemudian hari, pada kurun waktu perkembangan kebudayaan La Tène (ca. 450 SM sampai wilayah Belanda ditaklukkan oleh bangsa Romawi), kebudayaan Kelt ini, baik melalui difusi maupun migrasi, menyebar luas sampai ke kawasan selatan wilayah negara Belanda. Kawasan selatan Belanda ini merupakan batas utara dari daerah persebaran suku bangsa Galia.
Pada bulan Maret 2005, 17 keping uang logam Kelt ditemukan di Echt, Limburg. Kepingan-kepingan uang perak yang bercampur tembaga dan emas ini diperkirakan berasal dari sekitar tahun 50 SM sampai 20 M. Pada bulan Oktober 2008, harta karun berupa 39 keping uang emas dan 70 keping uang perak Kelt ditemukan di daerah AmbyMaastricht.[20] Kepingan-kepingan uang emas diyakini berasal dari masyarakat Eburones.[21] Benda-benda buatan suku bangsa Kelt juga telah ditemukan di daerah Zutphen.[22]
Meskipun harta karun sangat jarang ditemukan, pada beberapa dasawarsa terakhir, sejumlah kepingan uang logam dan benda-benda buatan Kelt lainnya telah ditemukan di seluruh kawasan tengah, timur, dan selatan Belanda. Menurut para arkeolog, barang-barang temuan ini membuktikan bahwa sekurang-kurangnya daerah Lembah Sungai Maas di Belanda termasuk dalam ruang lingkup pengaruh kebudayaan La Tène. Para arkeolog Belanda bahkan berspekulasi bahwa Zutphen (yang terletak di kawasan tengah wilayah Belanda) merupakan daerah permukiman suku bangsa Kelt sebelum kedatangan bangsa Romawi, dan sama sekali bukan daerah permukiman suku bangsa Jermani.[22]
Para ahli berbeda pendapat mengenai luas yang sebenarnya dari ruang lingkup pengaruh budaya Kelt.[16][23] Pengaruh budaya Kelt dan kontak-kontak antara kebudayaan Galia dan kebudayaan Jermani perdana di sepanjang Sungai Rhein diduga sebagai sumber dari sejumlah kata serapan dari bahasa Kelt dalam kosakata bahasa proto Jermani. Namun menurut ahli bahasa berkebangsaan Belgia, Luc van Durme, bukti toponim dari keberadaan suku bangsa Kelt di Negeri-Negeri Dataran Rendah nyaris tidak ada sama sekali.[24] Meskipun suku bangsa Kelt pernah bermukim di Belanda, inovasi-inovasi Zaman Besi tidak menampakkan pengaruh budaya Kelt yang cukup berarti, dan justru menampakkan hasil pengembangan kebudayaan Zaman Perunggu yang dilakukan oleh masyarakat setempat.[16]

Permukiman-permukiman bangsa Romawi di Belanda[sunting | sunting sumber]

Permukiman-Permukiman Bangsa Romawi
Topeng prajurit berkuda Romawi, ditemukan di dekat kota Leiden.
Tapal batas wilayah Kekaisaran Romawi di sekitar Sungai Rhein sekitar tahun 70 M.
Mulai sekitar tahun 15 SM, daerah sekitar Sungai Rhein di Belanda menjadi daerah pertahanan Limes Germanicus Hilir. Setelah berkali-kali dilanda peperangan, Sungai Rhein akhirnya menjadi tapal batas utara wilayah kekuasaan bangsa Romawi di daratan Eropa. Sejumlah kota kecil berdiri dan sejumlah perkembangan berlangsung di sepanjang tapal batas ini. Daerah di sebelah selatan tapal batas diintegrasikan ke dalam Kekaisaran Romawi. Daerah yang dulunya merupakan wilayah Gallia Belgica ini dijadikan bagian dari provinsi Germania Inferior. The Suku-suku yang sudah lebih dahulu mendiami atau dipindahkan ke daerah ini warga Kekaisaran Romawi. Daerah di sebelah utara Sungai Rhein, yang didiami orang Frisi dan orang Chauci, tetap berada di luar pemerintahan Romawi tetapi kerap didatangi dan dikendalikan oleh bangsa Romawi.
Bangsa Romawi mendirikan benteng-benteng militer di sepanjang Limes Germanicus, berikut sejumlah kota kecil dan permukiman yang lebih kecl lagi di wilayah Belanda. Kota-kota Romawi yang lebih menonjol berlokasi di Nijmegen (Ulpia Noviomagus Batavorum) dan Voorburg (Forum Hadriani).
Mungkin reruntuhan peninggalan bangsa Romawi yang paling menarik adalah puing-puing Brittenburg yang misterius itu, muncul dari balik pasir pantai di Katwijk beberapa abad yang lalu, hanya untuk dikubur kembali. Puing-puing ini merupakan bagian dari Lugdunum Batavorum.
Bekas-bekas permukiman, benteng kuil, dan bangunan-bangunan bangsa Romawi lainnya telah ditemukan di Alphen aan de Rijn (Albaniana), BodegravenCuijkElst OverbetuweErmeloEschHeerlenHoutenKessel di Brabant UtaraOss (yakni De Lithse Ham dekat Maren-Kessel), Kesteren di Neder-BetuweLeiden (Matilo), Maastricht, Meinerswijk (sekarang bagian dari Arnhem), TielUtrecht (Traiectum), Valkenburg di Holland Selatan (Praetorium Agrippinae), Vechten (Fectio) sekarang bagian dari BunnikVelsenVleutenWijk bij Duurstede (Levefanum), Woerden (Laurium atau Laurum) dan Zwammerdam (Nigrum Pullum).

Pemberontakan orang Batavi[sunting | sunting sumber]

Sepanjang sejarah negara Belanda, teristimewa semasa Perang Delapan Puluh Tahun, orang Batavi diagung-agungkan sebagai pejuang-pejuang gagah berani yang menjadi cikal bakal bangsa Belanda. "Orang Batavi Mengalahkan Bangsa Romawi di Sungai Rhein", ca. 1613, karya Otto van Veen.
Konspirasi Klaudius Sivilis, 1661, karya Rembrandt, menggambarkan peristiwa sumpah setia orang Batavikepada Gaius Iulius Civilis, pemimpin pemberontakan orang Batavi melawan penjajah Romawi pada tahun 69 M.
Orang Batavi, orang Kananefati, dan suku-suku perbatasan lainnya sangat disegani sebagai prajurit-prajurit tangguh di seluruh wilayah kekaisaran. Menurut tradisi, warga suku-suku ini menjalani masa bakti sebagai prajurit dalam barisan pasukan berkuda Romawi.[31] Budaya daerah perbatasan dipengaruhi oleh bangsa Romawi, suku-suku bangsa Jermani, dan suku bangsa Galia. Pada abad-abad pertama sesudah Galia ditaklukkan oleh bangsa Romawi, perniagaan tumbuh subur. Peninggalan-peninggalan budaya bendawi bangsa Romawi, Galia, dan Jermani ditemukan bercampur baur di kawasan ini.
Meskipun demikian, orang Batavi memberontak melawan bangsa Romawi dalam peristiwa Pemberontakan Batavia pada tahun 69 M. Pemimpin pemberontak adalah seorang pribumi Batavi yang bernama Gaius Iulius Civilis. Salah satu penyebab pemberontakan adalah karena pemuda-pemudi Batavia dijadikan budak belian oleh bangsa Romawi. Sejumlah castella Romawi diserang dan dibakar. Prajurit-prajurit Romawi di Xanten dan tempat-tempat lain, serta pasukan-pasukan bantu yang beranggotakan orang Batavi dan orang Kananefati dalam legiun-legiun pimpinan Vitellius turut bergabung dengan kubu pemberontak, sehingga memecah kesatuan bala tentara Romawi yang bertugas di kawasan utara wilayah kekaisaran. Pada bulan April 70 M, beberapa legiun yang dikerahkan Vespasianus di bawah pimpinan Quintus Petillius Cerialis pada akhirnya berhasil mengalahkan orang Batavi dan merundingkan penyerahan diri pemberontak dengan Gaius Iulius Civilis di suatu tempat yang terletak di daerah antara Sungai Waal dan Sungai Maas dekat Noviomagus (Nijmegen), yang mungkin sekali disebut "Batavodurum" oleh orang Batavi.[32] Di kemudian hari, orang Batavi berbaur dengan suku-suku lain dan menjadi bagian dari suku Franka Sali.
Para pujangga Belanda pada abad ke-17 dan ke-18 memandang pemberontakan orang Batavi, yang didorong oleh cinta kemerdekaan dan dilakukan demi memerdekakan diri sendiri ini, sebagai aksi yang serupa dengan pemberontakan bangsa Belanda melawan bangsa Spanyol dan segala bentuk lain dari tirani. Menurut pandangan nasionalis ini, orang Batavia adalah leluhur "sejati" bangsa Belanda. Pandangan semacam inilah yang menyebabkan nama "Batavia" berulang kali dipergunakan oleh bangsa Belanda. Jakarta dulunya adalah sebuah kota yang diberi nama "Batavia" oleh bangsa Belanda pada tahun 1619. Republik Belanda yang dibentuk pada tahun 1795 berdasarkan prinsip-prinsip revolusioner Prancis disebut Republik Batavia. Bahkan sekarang ini "orang Batavia" merupakan istilah yang kadang-kadang dipakai sebagai sebutan bagi orang Belanda, sama seperti istilah "orang Galia" dijadikan sebutan bagi orang Prancis dan istilah "orang Teuton" dijadikan sebutan bagi orang Jerman.[33]

Munculnya orang Franka[sunting | sunting sumber]

Peta persebaran orang Franka Sali(hijau) dan orang Franka Ripuari(merah) pada penghujung zaman pemerintahan Romawi.
Para pengkaji periode migrasi pada Zaman Modern sepakat bahwa identitas orang Franka muncul pada paruh pertama abad ke-3 dari berbagai kelompok-kelompok kecil masyarakat Jermani yang sudah ada sebelumnya, termasuk orang Saliorang Sikambriorang Kamaviorang Brukteriorang Katiorang Katuariorang Ampsivariorang Tenkteriorang Ubiorang Batavi, dan orang Tungri, yang mendiami bagian hilir dan bagian tengah lembah Sungai Rhein di antara Zuyder Zee dan Sungai Lahn serta membentang ke timur sejauh Weser, tetapi lebih banyak bermukim di sekitar IJssel dan daerah di antara Sungai Lippe dan Sungai Sieg. Konfederasi orang Franka mungkin sekali mulai terbentuk pada era 210-an.[34]
Orang Franka pada akhirnya terbagi menjadi dua kelompok, yakni orang Franka Ripuari (bahasa LatinRipuari) yang mendiami daerah tengah lembah Sungai Rhein pada zaman penjajahan Romawi, dan orang Franka Sali yang berasal dari wilayah Belanda.
Orang Franka diriwayatkan sebagai kawan maupun lawan (laeti maupun dediticii) dalam karya-karya tulis Romawi. Sekitar tahun 320, orang Franka berhasil menguasai daerah sekitar Sungai Scheldt (sekarang menjadi wilayah Flandria Barat dan kawasan barat daya Belanda), dan melakukan perompakan di Selat Inggris, menghambat kelancaran angkutan laut menuju Britania. Pasukan-pasukan Romawi dapat mengamankan kawasan itu, tetapi tidak mengusir orang Franka, yang tetap saja ditakuti sebagai gerombolan perompak di sepanjang daerah pesisir setidaknya sampai masa pemerintahan Yulianus Si Murtad (358), yakni masa ketika orang Franka Sali diizinkan menetap di Toksandria sebagai salah satu foederati Kekaisaran Romawi, menurut keterangan Ammianus Marcellinus.[34]

Lenyapnya orang Frisi[sunting | sunting sumber]

Kawasan sekitar Laut Utara ca.250-500 M.
Ada tiga faktor yang menyebabkan orang Frisi menghilang dari kawasan utara Belanda. Yang pertama, menurut Panegyrici Latini (Naskah VIII), orang Frisikuno dipaksa pindah ke permukiman baru di dalam wilayah Kekaisaran Romawi sebagai laeti (kaum hamba tani Romawi) sekitar tahun 296.[35] Keterangan ini adalah kabar paling akhir mengenai orang Frisi dalam catatan sejarah. Nasib mereka selanjutnya hanya dapat diduga melalui catatan arkeologi. Penemuan sejenis gerabah khas Frisia dari abad ke-4, yang disebut terp Tritzum, menyiratkan bahwa orang-orang Frisi, dalam jumlah yang tidak diketahui, berpindah ke Flandria dan Kent,[36] agaknya sebagai laeti di bawah paksaan bangsa Romawi. Yang kedua, lingkungan daerah pesisir yang rendah di kawasan barat laut Eropa mulai semakin amblas sekitar tahun 250, dan perlahan-lahan terhenti sepanjang 200 tahun berikutnya. Subsidensi tektonik, naiknya permukaan air tanah, dan pusuan ribut mengakibatkan sejumlah daerah terendam transgresi laut. Keadaan ini semakin diperparah oleh perubahan iklim di daerah pesisir menjadi lebih dingin dan lebih lembab. Andaikata masih ada orang Frisi yang tersisa di daerah pesisir, tentunya mereka punah akibat tenggelam.[37][38][39][40] Yang ketiga, selepas runtuhnya Kekaisaran Romawi, terjadi penurunan jumlah penduduk seiring terhentinya akitivitas bangsa Romawi dan penarikan mundur lembaga-lembaga bangsa Romawi. Sebagai akibat dari ketiga faktor ini, orang Frisi dan orang Frisievoni menghilang dari daerah bekas permukiman asli mereka. Sebagian besar daerah pesisir tetap tidak berpenghuni selama dua abad selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar